Selasa, 06 September 2011

“Mencuri ilmu” dari staf senior berprestasi ,mengapa tidak..?




“Dan bekerja samalah  kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan bekerja sama dalam dosa dan pelanggaran  “QS Al Maidah  ;2

  “A spirit of sharing and caring where people give cheerfully of their time ,knowledge and experience “. Goolde Rule Of   Mary kay  Cosmetic Philoshophy


Kank ,saya baru saja diterima sebagai  Costumer Service , walaupun saya lulusan Fakultas Sastra saya memang menyukai tantangan.Jujur saya memeng belum pernah dapat “ marketing knowledge “  dari bangku kuliah . Saya suka belajar secara otodidak ,minggu depan saya masuk masa percobaan selama 3 bulan sebelum kontrak  .Saya ingin mencuri ilmu adari staff senior  yang berprestasi ,apa yang mesti saya pelajari..?



Sebelumnya saya ucapkan selamat sudah diterima kerja sebagai CS. Saya suka istilah mencuri ilmu dari staff senior artinya meng up grade performance melalui pengamatan langsung dari” ahlinya”.

Pertama :Attitude

Hampir semua perusahaan dapat dipastikan sudah memberikan training tentang knowledge dan Knowhow setiap karyawan yang akan diterjunkan  ke medan tugas.namun karyawan yang berprestasi memiliki etos kerja yang handal baik dalam performance maupun alokasi waktu.Mereka sangat sadar bahwa budaya pelayanan adalah membangun integritas pribadi ,Jadi “curilah “ attitudenya untuk selajutnya anda tiru..!


Kedua,Performance

Kinerja karyawan berprestasi biasanya beda dengan karyawan biasa,terlihat dari performancenya dalam menjalankan tugas.Curilah ilmunya saat  bagaimana dia berkomunikasi kepada ,atasan konsumen dan kolega,ketrampilan mencari fakta dan data,kecakapan menerima kompalain dan keluhan atas hasil kerjanya, kemampuan komunikasi termasuk negoisasi,diskusi dan presentasi,kemampuan menyusun sebuah laporan ,kemampuan memotivasi diri dan orang lain .dsb.

 Intinya semua atribut  yang membuat karyawan tersebut layak disebut berprestasi.dengan demikian anda punya role model yang begitu dekat.Jangan segan segan untuk berani bertanya kepadanya..!



Ketiga ,Spirit


Karyawan berprestasi memiliki prinsip mencintai profesinya,job meaning.Mereka sangat bangga dan merasa bermakna atas profesi yang dijalaninya.Profesional,meningkatkan kemampuan diri dan berperstasi adalah puncak kepuasaannya dalam bekerja.Mereka memiliki rasa syukur atas profesi yang dilakoninya dengan terus  berupaya memberikan yang terbaik dari yang mereka bisa . Spirit inilah yang mampu mengantar mereka ke puncak prestasi dalam bekerja.


“Curilah “ilmunya ‘ bukan hanya knowledge dan knowhow  tapi juga mental dan spiritnya…!”

Minggu, 04 September 2011

Otodidak , Sukses Usaha Las Aluminium

“Dan  kami menciptakan manusia dalam keadaan sebaik baiknya”. QS At Tiin  :4

“Setelah sukses menangani proyek perusahaan besar ,proyek proyek besar pun menghampiri, kank..!  Padahal saya tidak pernah kepikiran punya usaha ini.”Alfan pemilik sebuah PT bidang jasa kotraktor.


Beliau menceritkan asal usul keterampilan mengelas yang tidak pernah dipelajari sebelumnya.

“Setelah lulus SMA dari pelosok Jawa Timur ,saya nekat keSurabaya.Tahu sendiri lulusan SMA ditahun 87 an bisa bekerja apa .Saya hanya berbekal Rp 55.000,- namun namanya  nekad saya tak pernah hiraukan apakah uang itu cukup atau tidak.Prinsipnya saya mau mengubah nasib.”

“Nekad memang bukan sesuatu yang baik,setidaknya saat saya numpang dirumah pakde di Surabaya barat.Tanpa bekal keahlian apa apa saya belum mendapat pekerjaan apa apa selama empat bulan,malu binggung sungkan pasti.Namun pakde tahu bahwa saya tiap hari berangkat mencari pekerjaan.Hingga suatu hari saya ditawari teman pakde untuk membantu bekerja di bengkel  lasnya .Walaupun saya nggak ngerti ngelas terima aja pekerjaan ini daripada ngganggur!.Pekerjaan pertama yang saya lakukan adalah mengelas  Mobil Jeep Jimny,Dengan didampingi rekan senior pekerjaan ngelas saya pun berhasil,prinsip saya coba saja,sambil belajar..!”


“Lama kelamaan karena kesungguhan saya belajar ,mau diajari ,mau menerima kritik dan belajar dari kesalahan sebelumnya saya menjadi ahli. Bengkel teman pak de ini menjadi Laborotarium ngelas gratis bagi saya .Sekaligus dapat uang (walau tidak seberapa),hehe tapi harus tetep disyukuri  . Saya senang karena lama kelamaan saya saya mendapatkan kepercayaan dari bengkel untuk pengerjaan las dengan tingkat kerumitan yang lebih tinggi.”


“Suatu saat saya bertemu dengan Pak Hartono beliau pemilik pabrik pembuatan logam dan aluminium saya ditawari sebagai tehnisi diperusahaan itu.Untuk menambah wawasan dan pengalaman saya menerima tawaran itu. Sembari menjadi tehnisi saya pun   nekad  sore hari melanjutkan mencari order untuk perusahaan dimana saya pertama kali belajar las yaitu temannya. Pak De. Lumayan penghasilan saya ganda namun juga lantaran saya cinta dunia las mengelas . Saya juga baru menikah biasa ingin membahagiakan keluarga..”.tehnisi merangkap marketing”.



“Dari bekerja di Perusahaan Pak Hartono saya menjadi memiliki banyak pengalaman dan keahlian terutama dalam pembuatan produk berbahan dasar logam untuk fabrikasi seperti kerangka kerangka mesin,tangki besar,tabung pengolahan limbah container dsb. Termasuk yang berbahan dasar aluminium dan baja.”


“Sampai suatu saat saya bertemu dengan pengusaha besar yang ingin diversifikasi usaha ,saya dimodalin hingga menjadi ,yang kank hari lihat saat ini”.sambil tersenyum bahagia.

“Karena penasaran saya pun bertanya;untuk menjadi ahli las yang luar biasa handal seperti anda ini kecakapan apa saja yang harus dimiliki..?


“Biasa aja kank ,hanya persoalan jam terbang. Tapi harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil las yang maksimal dan berkualitas.  Imajinasi ,perencanaan
Dan pengukuran harus pas sesuai persisi produk yang dibutuhkan. Meminimalisasi terbuangnya bahan baku,penyusutan dan perubahan bentuk produk.Menghitung dengan tepat peleburan produk dan bahan las serta menghindari keretakan setipis apapun.Ya bukan hanya thinking tapi juga insting…”begitu beliau mengakhiri ceritanya .

Dan saya dapat kuliah soft skill dari ahlinya yang sampai pada puncak kesuksesannya  tidak tertarik menjadi sarjana…!







Sabtu, 03 September 2011

Fresh Graduate, Belum Cukup Untuk Siap Kerja !

Ya bapakku ambillah  ia sebagai orang yang bekerja (pada kita ),karena sesungguhnya sebaik baik orang yang engkau pekerjakan ialah orang yang kuat  (professional) lagi penuh amanat.(QS Al Qashshas ;26)




“Bagaimana mungkin perencanaan jadwal yang sudah kamu lakukan ,justru bisa amburadul dan tidak jelas begini..,pokoknya saya tidak mau tahu .ini menyangkut citra korporasi …!”. Seorang branch manager yang marah marah kepada beberapa karyawan yang direkrut setahun yang lalu.Mereka adalah lulusan  fresh  graduate dari Perguruan Tinggi ternama.

Belum Memiliki Kecakapan Analisa.

Salah satu keluhan dunia industry terhadap karyawan yang baru lulus dari Perguruan Tinggi adalah kurang memiliki kecakapan analisa situasi,sehingga sulit mencapai sasaran yang terukur.Tidak pernah belajar dari keslahan sbelumnya adalah bagian analisa yang belum dimiliki mereka. Padahal dengan menganalisa  hasil    apapun dari suatu kegiatan semestinya para karyawan baru ini meluangkan waktu untuk menganalisa diri maupun kinerjanya


Interpersonal Skill

Analisa diri dapat dilakukan melalui kemampuan control diri terutama bahwa para karyawan baru cenderung mengerjakan pekerjaan secara tergesa gesa,ingin cepat selesai .Harapannya dianggap professional,namun jika pekerjaan ini lebih relasi  antar manusia ,maka ketergesa gesaan tidak membuahkan hasil Karena orang lain tidak dapat begitu saja menuruti apa yang ia mau.belum lagi jikapara senior meng underestimate kompetensi mereka.Kesabaran untuk menjalai proses secara bertahap adalah kunci sukses  . termasuk strategi komunikasi yang mampu mengarahkan kepada sasaran yang dicapai adalah bagian dari intrepresonal skill yang patut dimiliki sarjana baru lulus.  

Mahasiswa  yang terbiasa magang ,free line  ,kerja paruh waktu,ikut berorganisasi   yang memiliki kecakapan interpersonal skill yang lebih bagus saat lulus.



Kecakapan  Afeksi

“Saya tidak mengerti semestinya mereka kan tahu ini hari libur ,kenapa mereka hubungi ponsel saya untuk komplain layanan yang tidak prima…”  seorang karyawan bagian pelayanan ,mengeluh..!


Ranah afektif memang tidak banyak diajarkan di kampus.Mereka lebih sering menggunakan kalkulasi logis dari pekerjaannya sehingga sering tidak efektif dalam mengenali kebutuhan “customernya’.

Padahal dengan menggunakan pertanyaan terbuka mereka dapat menggali sikap ,pandangan dan perhatian mereka..”baik ,laporan bapak kami terima segera kami sampaikan kepada petugas yang bersangkutan..,inikah nomer telepon bapak yang bisa dihubungi..” rasa emphatic karyawan dapat menciptakan image priibadi dan dapat menciptakan long term relationship.


Kecakapan afeksi  yang di miliki lulusan murni ini kurang bisa mendeteksi resistensi dari costumer atau atasannya. Mereka tidak bisa membedakan  antara penolakan  yaitu ketidak sukaan kepada dirinya,keraguan  terwujud dalam sikap pesimis apakah karyawan baru tadi dapat memenuhi kompetensi yang diharapkan .Dan juga dimana “konsumen/orang yang dilayani” menunda keputusan nya untuk menyetujui tanpa ingin mengemukakan alasannya. Ketrampilan yang tidak terbiasa didapat dikampus.

Fresh graduate harus mempersiapakan diri ,karena persiapan kerja membuat setengah pekerjaan bakal terlaksana.













Selasa, 30 Agustus 2011

Talent Management Dan Magang


“Dan bahwa tiadalah untuk manusia ,melainkan apa yang diusahakannya,dan bahwa usahanya akan diperlihatkan kepadanya ,kemudian akan dibalas dengan pembalasan yang sempurna “. QS An Najm 39-41.

Salah satu hotel bintang lima dikota besar ,tidak menggunakan job hunter atau iklan di media masa untuk rekrutment karyawan baru.Melainkan menemukan keberbakatan calon karyawannya (talent management )melalui proses magang /trainee . Menurut Direktur HRD ,Selvi perusahaan itu sebagai berikut;

“Kualifikasi indeks prestasi akademik dan pengalaman dari calon karyawan tidak terlalu mutlak bagi kami ,kami memiliih bibit bibit yang bagus untuk kemudian dapat diasah dan dikembangkan di kemudian hari’”.

“Anak anak praktek kerja lapangan PKL atau anak magang selama 6 bulan,diantaranya outstanding untuk direkrut sebagai calon karyawan (trainee),melalui talent management..Tentu saja tidak secara otomatis diangkat menjadi karyawan.Pada saat perusahaan kami membutuhkan karyawan mereka kami panggil untuk mengikuti seleksi karyawan sesuai prosedur .”


“Kami memang tidak pernah road shows ke SMK atau Kampus kampus untuk mencari bibit potensial dan juga tidak mempunyai ikatan khusus dengan sekolah sekolah bersangkutan untuk pemenuhan kebutuhan calon karyawan. Prinsip equal employment opportunity kami gunakan sebagai proses pencarian karyawan berbakat,siapapun yang lolos seleksi pasti dapat bekerja ditempat kami’.

“Team rekrutmen karyawan kami adalah professional perusahaan ini yang tersertifikasi,mengingat sistem seleksi calon karyawan menggunakan Quality Selections Process menyebabkan hanya yang terbaik yang bisa kami jaring sekitar 2-5% dari pelamar yang bisa lolos.mengingat ditempat kami tidak menggunakan system kontrak kerja.”

“Salah satu strategi meraih loyalitas kinerja karyawan adalah menciptakan kebahagiaan dalam bekerja,orang bisa bekerja jika sesuai dengan want and talent nya.Kami berusaha untuk fokus dan optimis pada strength and opportunity seorang untuk maju bersama. Kami make sure pada core competence seorang karyawan dan menempatkan mereka sesuai keahliannya masing masing . Sehingga memang yang bekerja dibaidang masing masing hanya yang ahli .Mereka achievement lantaran memiliki passion”.


‘Kata kunci kami rekrutmen calon karyawan melalui trainee dalam talent management adalah setiap calon karyawan harus memiliki kemampuan know your self ,know your company ,excellence performance ini adalah ultimate purpose dalam perusahaan kami.’Extraordinary result through ordinary people”. Menutup Pembicaraan.

Senin, 29 Agustus 2011

Sarjana Akuntansi ,ingin menjadi Chief Financial Officer.



Ilmu Akuntansi ada dalam AlQur'an;

"Mereka itu akan memperoleh bagian dari apa yang mereka usahakan,dan Allah sangat cepat perhitungannya". QS Al Baqarah :202


“Nama saya ,Mahendra saya baru diwisuda sarjana akuntansi ,saya kelak ingin menjadi CFO disamping jalur akademik (S2 keuangan ) , perilaku apa yang semestinya saya siapkan sejak kini ..?”.


Pertama ,Seorang CFO,,atau direktur keuangan dimasa mendatang tidak hanya mencermati/ mengawasi saja pelaporan kinerja keuangan secara transparan . Melainkan sudah makin terlibat dalam perencannaa dan problem solver bagi peran peran strategis perusahaan.Bukan hanya memolototi angka namun efektifitas penggunaan keuangan.Anda harus sanggup develop higher level to concentration.terutama memahami makna funding : kombinasi struktur modal yang optimal menyeimbangkan antara posisi pinjaman, dan equity.Disinilah peran CFO selaku finalcial advisor.



Kedua ,Menjaga keseimbangan antara profit ,people dan planet..Mindet seorang CFO harus lebih terbuka mempertimbangkan perusahaan tidak hanya untuk margin besar saja ,melainkan berpikir kepada kepuasaan karyawan dan pemegang saham untuk menjaga loyalitas dan memberikan kontribusi positif pada lingkungan.Tuntutannya membangun high performance organization.Sekaligus menghitung resiko dalam Cost of Equity (CoE ) ,Stern Stewart & Co merumuskan CoE:resiko bisnis internal,resiko keuangan (uatang &modal ),resiko kemampuan membayar kewajiban (soverign risk )dan currency risk ,fluktuasi mata uang.



Ketiga ,Secara sederhana prinsip prinsip akuntansi yang sudah anda pelajari dibangku kuliah dapat diaplikasikan saat anda bekerja nanti adalah ;

1. Memahami dan mencari titik temu dari kesenjangan teori akuntansi yang anda dapatkan saat kuliah dengan praktik nyata di perusahaan (besar ).Secara mendasar praktik keuangan mencakup investasi,biaya modal ,deviden dan struktur permodalan.

2. Menurunkan biaya modal ,menggenjot pertumbuhan cash flow ,memperbaiki proses penganggaran,memperbaiki proses alokasi sumber keuangan perusahaan dsb


3. Membangun peningkatan efesiensi keuangan melalui pengawasan kinerja keuangan secara terintegrasi ,menggunakan perangkat ICT dalam system informasi keuangan. Serta kecakapan menjalain hubungan dengan departemen lain adalah kompetensi interpersonal.yang perlu dibangun disamping teori keuangan itu sendiri.


Yang paling penting teruslah beradaptasi dengan perubahan system akuntasi yang mungkin bisa berbeda dari yang anda dapatkan dari Kampus anda..!









Minggu, 28 Agustus 2011

Public Relations , Bukan hanya Knowledge Tapi Sikap.


“Sebenarnya bekerja sebagai Public Relations (PR ) bukan cita cita saya sejak kecil.Namun saya merasakan bahwa saya berbakat menjadi PR setelah menjadi anggota OSIS.Saya dianggap paling jago merayu” pemegang kuasa” di sekolah dan paling pintar ngomong..Kata teman teman saya kelak pasti jadi humas ,ya tapi saya ketawa aja.”

“Seperti kebanyakan teman teman ,saya juga memilih jurusan yang favorit yaitu Fakultas Psikologi, bukan saja jurusan ini menarik tapi saya memang suka dengan urusan jiwa manusia .Namun lagi lagi di kampuspun saya didaulat sebagai humas kegiatan fakultas,mulai dari mencari sponsor ,meyakinkan dekan sampai siaran di beberapa radio. Lagi pula saya suka bergaul dan senang mendapatkan relasi relasi baru.Saya senang dengan pekerjaan itu”.


“Sekarang sekalipun lulusan Fakultas Psikologi saya diterima di sebuah perusahaan consumer good dan ditempatkan sebagai Staff Public Relation.,Banyak yang harus saya pelajari diantaranya mengadakan event promo produk,merancang publikasi di media dan bertugas mengurusi relasi relasi dengan perusahaan.,terutama dengan media.”

“Pembelajaran komunikasi kehumasan bukan hanya terletak pada teori humas yang bisa dipelajari namun tetap pada kecerdasan emosi terutama pada pengendalian diri. Untungnya saya pernah belajar psikologi .Pada dasarnya ,setiap manusia punya punya keterbatasan dari satu sisi namun memiliki kelebihan disisi lain . Termasuk cara berkomunikasi.” .


“Saya menyadari keterbatasan pada hard skill terutama teori kehumasan namun saya merasa soft skill saya sudah terasah lama. Seperti ,interpersonal ,tekun,konsisten,kerendahan hati dan contextual skill alias memahami lingkungan sekitar)..sampai sekarang saya tidak segan segan untuk terus belajar, mulai dari baca buku,ikut seminar sampai mendengarkan radio.” . begitulah penuturan Ervina.


Batal Akuntan,Jadi Manajer Penjualan ,Kisah Budianto bekerja pada perusahaan keluarga.




“Waktu lulus SMA,sebenarnya saya punya rencana menjadi akuntan,saya masuk ke Fakultas Ekonomi PTS favorit.Sebelum di perusahaan yang sekarang, saya dulu sempat bekerja di beberapa kantor akuntan,lalu ke kantor lembaga finance,sempat juga bekerja di perusahaan Multi Nasional dan akhirnya saya bekerja ditempat ini.”

“Banyak pengalaman diluar pendidikan formal yang membangun karakter saya ,terutama “kegiatan jualan ‘,Lantaran ekonomi pas pasan saya pernah ikut orang untuk mengendakan kegiatan melalui video dan foto,ya hasilnya lumayan. Disamping saya juga memberikan bimbingan belajar privat ke rumah rumah pada hari –hari tertentu. Lumayan hasilnya untuk tambahan uang kuliah”.


"Pada saat pertama kali masuk diperusahaan ini tidak terbayang saya bisa menduduki ,Top Management saat itu saya hanya assiten manager yang juga owner. Maklum saya bekerja pada perusahaan keluarga. Tidak ada rahasia sukses ,Cuma kami sepakat waktu itu untuk membawa perusahaan ini menjadi lebih professional.Pada awalnya saya memang berat ,lantaran banyak mendapat tentangan dari para manager manager lain yang notabene adalah anggota keluarga. Namun owner mengijinkan. Butuh pengorbanan,pengorbanan dari ownernya juga pengorbanan dari sebagian besar karyawan."

"Mula mula saya harus meyakinkan semua karyawan agar memiliki sense of ownership ,tidak hanya skeder sebagi ukuran formalitas.Kerena hanya dengan menumbuhkan senseof ownership mereka dapat memebrikan yang terbaik sekaligus memiliki loyalitas . tentunya saya juga mendekati dengan reward yang memadai dalam bonus dan tunjangan yang lain bagi mereka sebagai mudharabah /profit sharing."

"Saat ini ada sekitar 1000an karyawan karyawan pada unit kerja kami,cara kami merangkul mereka adalah dengan membuat mereka puas terlebih dulu,materi dan psikisnya.Prinsipnya jika merasa puas dengan perusahaan maka akan lebih mudah baginya memuaskan pelanggan. Walaupun kami pun juga mengelola konflik konflik produktif bagi kemajuan perusahaan"

"Strategi bertahan dalam kegentingan saat perekonomian di Indonesia menurun era 2008 adalah meningkatkan ketangguhan mental team agar mereka berfokus untuk terus menghasilkan dalam posisi pasar lesu dengan prinsip “effektif akan sukses’.Kesemuanya kami galang menjadi satu kesatuan yang solid ,barulah kami bisa berinovasi dan pada akhirnya pertumbuhan perusahaan menjadi lebih pesat".

“Saya bermimpi bisa menjadi pemain global setidaknya Asia Pasifik,kalau kinerja teman teman tetap bertahan seperti ini. tidak mustahil mimpi saya terwujud",Pak Budianto menutup cerita pengalaman suksesnya.

Kunci dari keberhasilan pak Budianto adalah Soft Skill meliputi keberanian membangun kredibilitas pribadi di dalam organisasi ,walaupun tidak sejalan dengan ilmu yang dipelajarinya.Kedua memanfaatkan ilmu akuntansi nya untuk mendorong terciptanya sense of ownership para karyawan dengan meykinkan semua pihak terutama dalam profit sharing kepada Manajer keuangan dan Owner. Ini artinya kecakapan mempengaruhi.Dan yang terakhir adalah memahami peluang orang lain dalam posisi penting mereka sehingga tercipta hubungan yang nyaman dalam atmosfir kerja.