Sabtu, 03 September 2011

Fresh Graduate, Belum Cukup Untuk Siap Kerja !

Ya bapakku ambillah  ia sebagai orang yang bekerja (pada kita ),karena sesungguhnya sebaik baik orang yang engkau pekerjakan ialah orang yang kuat  (professional) lagi penuh amanat.(QS Al Qashshas ;26)




“Bagaimana mungkin perencanaan jadwal yang sudah kamu lakukan ,justru bisa amburadul dan tidak jelas begini..,pokoknya saya tidak mau tahu .ini menyangkut citra korporasi …!”. Seorang branch manager yang marah marah kepada beberapa karyawan yang direkrut setahun yang lalu.Mereka adalah lulusan  fresh  graduate dari Perguruan Tinggi ternama.

Belum Memiliki Kecakapan Analisa.

Salah satu keluhan dunia industry terhadap karyawan yang baru lulus dari Perguruan Tinggi adalah kurang memiliki kecakapan analisa situasi,sehingga sulit mencapai sasaran yang terukur.Tidak pernah belajar dari keslahan sbelumnya adalah bagian analisa yang belum dimiliki mereka. Padahal dengan menganalisa  hasil    apapun dari suatu kegiatan semestinya para karyawan baru ini meluangkan waktu untuk menganalisa diri maupun kinerjanya


Interpersonal Skill

Analisa diri dapat dilakukan melalui kemampuan control diri terutama bahwa para karyawan baru cenderung mengerjakan pekerjaan secara tergesa gesa,ingin cepat selesai .Harapannya dianggap professional,namun jika pekerjaan ini lebih relasi  antar manusia ,maka ketergesa gesaan tidak membuahkan hasil Karena orang lain tidak dapat begitu saja menuruti apa yang ia mau.belum lagi jikapara senior meng underestimate kompetensi mereka.Kesabaran untuk menjalai proses secara bertahap adalah kunci sukses  . termasuk strategi komunikasi yang mampu mengarahkan kepada sasaran yang dicapai adalah bagian dari intrepresonal skill yang patut dimiliki sarjana baru lulus.  

Mahasiswa  yang terbiasa magang ,free line  ,kerja paruh waktu,ikut berorganisasi   yang memiliki kecakapan interpersonal skill yang lebih bagus saat lulus.



Kecakapan  Afeksi

“Saya tidak mengerti semestinya mereka kan tahu ini hari libur ,kenapa mereka hubungi ponsel saya untuk komplain layanan yang tidak prima… seorang karyawan bagian pelayanan ,mengeluh..!


Ranah afektif memang tidak banyak diajarkan di kampus.Mereka lebih sering menggunakan kalkulasi logis dari pekerjaannya sehingga sering tidak efektif dalam mengenali kebutuhan “customernya’.

Padahal dengan menggunakan pertanyaan terbuka mereka dapat menggali sikap ,pandangan dan perhatian mereka..”baik ,laporan bapak kami terima segera kami sampaikan kepada petugas yang bersangkutan..,inikah nomer telepon bapak yang bisa dihubungi..” rasa emphatic karyawan dapat menciptakan image priibadi dan dapat menciptakan long term relationship.


Kecakapan afeksi  yang di miliki lulusan murni ini kurang bisa mendeteksi resistensi dari costumer atau atasannya. Mereka tidak bisa membedakan  antara penolakan  yaitu ketidak sukaan kepada dirinya,keraguan  terwujud dalam sikap pesimis apakah karyawan baru tadi dapat memenuhi kompetensi yang diharapkan .Dan juga dimana “konsumen/orang yang dilayani” menunda keputusan nya untuk menyetujui tanpa ingin mengemukakan alasannya. Ketrampilan yang tidak terbiasa didapat dikampus.

Fresh graduate harus mempersiapakan diri ,karena persiapan kerja membuat setengah pekerjaan bakal terlaksana.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar